Situs Cagar Budaya Dato Karama

Situs Cagar Budaya makam Dato Karama adalah sebuah situs Budaya berupa pekuburan tempat di makamkannya seorang tokoh penyebar agama Islam yang pertama di Sulawesi Tengah pada abad17.    Makam ini terletak di Kampung Lere tidak jauh dari Taman Budaya Palu.  Di depan makam ada warung makanan unik ala makassar yang dagingnya serba kuda, ada coto kuda, konro kuda pokoknya serba kuda.    Nama Dato Karama sendiri merupakan gelar yang diberikan oleh khalayak yang artinya seorang dato yang sakti atau keramat.  Nama asli Dato Karama adalah Abdullah Raqie berasal dari Sumatera Barat.  Karena kesaktiannya maka Raja Kabonena I Pue Njidi serta rakyatnya memeluk Agama Islam. Isteri Dato Karama bernama Intje Djille sedangkan anaknya bernama Intje Dongko dan Intje Saribanong, Injte Dongko kawin dengan pemuda dari Sulawesi Selatan. Pada kompleks Makam Datokarama selain makam beliau juga terdapat makam isterinya dan keluarga serta pengikutnya yang terdiri dari 9 (sembilan) makam laki-laki, dan 11 (sebelas) makam wanita serta 2(dua) makam yang tidak jelas, karena nisannya juga tidak jelas.

Untuk menghormati Dato karama ini, seorang pengusaha membiayai pembangunan sebuah Masjid yang terletak di depan SPBU di pantai Kampung Lere bernama Argam Bab Al Rahman yang dibiayai oleh Muhammad Hasan Bajamal, pengusaha sukses yang memiliki sejumlah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di Kota Palu. Masjid berlantai satu dengan empat menara ini berjarak 30 meter dari bibir pantai.  Sesuai gambar maket, masjid ini seolah-olah mengapung di atas air laut dengan dikelilingi pemandangan Teluk Palu.

Hasan Bajamal mengatakan pembangunan masjid ini adalah untuk mengenang Dato Karama, salah satu penyebar agama Islam di Kota Palu pada abad ke-17. Penyebar Islam dari Tanah Minang, Sumatera, itu pertama kali menginjakkan kaki di Kampung Lere, yakni lokasi di sekitar pembangunan masjid Argam Bab Al Rahman sekarang ini. “Jangan sampai sejarah Dato Karama terkikis zaman,” katanya.  Nama Dato Karama sendiri sudah diabadikan menjadi nama Sekolah Tinggi Agama Islam di Palu.

Perihal in'am
hi, my name Inam, I live in the exotic Sulawesi Island of Indonesia. For awhile,I work as social worker in the international ngo's that concern in forest conservation.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.