Uta Kelo / Sayur Kelor Masakan Khas Palu/Kaili

Uta Kelo, Duo dan ikan Katombo

Saat Anda mengunjungi kota Palu belum lengkap rasanya kalau belum mencoba makanan yang satu ini. Namanya Uta Kelo/sayur kelor yang merupakan salah  masakan khas Palu.  Konon setelah makan sayur ini anda akan teringat selalu dengan Kota Palu dan ingin kembali lagi. Sesuai namanya sayur ini dibuat dari bahan utama daun kelor (Moringa oleifera) dan pisang sepatu (pisang kepok) yang dimasak dengan santan. Untuk rasa sangat khas di lidah yang tidak akan anda dapatkan dari masakan lain sehingga anda akan selalu mengingatnya.  Uta Kelo sangat cocok dimakan dengan Duo (sambal teri nasi) dan ikan katombo bakar. Untuk nasinya bisa pakai nasi jagung.  Di Kota palu sayuran ini sangat mudah di jumpai di berbagai rumah makan di Kota Palu.

Mengenal Teluk Tomini

Teluk Tomini merupakan teluk terbesar di Indonesia dengan luas kurang lebih 6 juta hektar dengan potensi sumberdaya alam yang kaya dan unik.  Teluk Tomini mempunyai peran penting bagi dunia karena letaknya yang persis berada di jantung segitiga terumbu (coral triangle) dimana posisinya tepat berada di garis katulistiwa dan memiliki ekosistem laut semi tertutup.   Teluk ini terkenal memiliki sumberdaya perikanan yang besar, terumbu karang dan mangrove yang unik serta sumberdaya pesisir yang kaya akan potensi.  Dengan panjang garis pantai menacapai 2.400 Km, secara administratif berada di 3 Propinsi yaitu Sulawesi Tengah, Gorontalo dan Sulawesi Utara.

Terdapat 56 gugusan pulau-pulau di teluk Tomini yang dikenal dengan Kepulauan Togean.  Kepulauan Togean masuk dalam kabupaten Tojo Una Una. Ada enam pulau besar, yaitu Pulau Una-Una, Batulada, Togean dan Talatakoh, Waleakodi dan Waleabahi. Kepulauan Togean terkenal dengan keindahan alam bawah lautnya yang beragam, dan menjadi surga bagi scuba divers atau sekedar snorkling.  Selain karena terumbu karangnya yang indah, berbagai jenis ikan juga hidup di sini.  Aset sumberdaya pesisir dan laut Teluk Tomini berupa terumbu karang merupakan bagian dari segitiga terumbu karang dunia (Coral Triangle) dan Taman Nasional Laut Kepulauan Togean dikenal sebagai “the Heart of Coral Triangle”. Kawasan Segitiga Terumbu Karang meliputi Indonesia, Filipina, Malaysia, Papua New Guinea, Brunei, Kepulauan
Solomon dan Timor Leste.   Terumbu karang di laut sekitar
Kepulauan Togean misalnya memiliki 115 spesies Scleractinia (karang keras) dengan aneka keindahannya.  UNESCO pun telah menetapkan Teluk Tomini sebagai salah satu kekayaan dunia yang patut dilindungi.

Teluk ini menyimpan potensi laut yang sangat menjanjikan.  Secara ekonomis Teluk Tomini juga potensial sebab berdasarkan kajian, luas perairan untuk penangkapan ikan mencapai 5.295.144 ha. Lalu untuk budi daya laut seluas 6.072.202 ha serta budi daya rumput laut dan kerapu seluas 374.832 ha.
Dari luasan itu potensi perikanannya menggiurkan. Untuk ikan pelagis besar (tuna, cakalang, tongkol, dan tengiri) misalnya, bisa menghasilkan 106.000 ton per tahun. Lalu, ikan pelagis kecil seperti malalugis (Decapterus macarellus) sebanyak 379.440 ton/tahun dan ikan demersal (83.840 ton/tahun).
Pemerintah provinsi Sulawesi Tengah melaporkan, potensi sumberdaya ikan di perairan tersebut, mencapai sekitar 330.000 ton per tahun dan yang dapat dikelola secara lestari sekitar 214.000 ton per tahun.

Kondisi oseanografis Teluk Tomini yang berhubungan dengan berbagai laut lepas seperti Laut Sulawesi dan Laut Maluku, memungkinkan terjadinya pertukaran massa air yang berdampak optimal pada sirkulasi nutrien.  Akibatnya, teluk yang memiliki kedalaman hingga 4.000 meter itu memiliki tingkat kesuburan tinggi dan dihuni oleh berbagai jenis ikan bernilai ekonomis tinggi. Teluk Tomini juga dikenal sebagai areal pembesaran ikan tuna.

Oleh Pemerintah, Teluk Tomini dan sekitarnya telah ditetapkan sebagai kawasan budidaya ruang darat maupun laut yang pengembangannya diarahkan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi bagi kawasan tersebut (PP No. 26 Tahun 2008 tentang RTRWN).  Dalam kawasan Teluk Tomini, juga terdapat satu pelabuhan internasional yaitu pelabuhan Bitung dan satu pelabuhan nasional  yaitu pelabuhan Gorontalo (PP No. 26 Tahun 2008) dan 13 kawasan lindung nasional yang terdiri dari satu kawasan suaka alam laut, tiga suaka margasatwa, tujuh cagar dan satu taman nasional serta satu taman nasional laut  (PP No. 26 Tahun 2008).


Wisata Ke Bukit Kasih Tomohon

Di lantai 8 hotel Gran Central manado yang ada di bilangan jalan Sudirman Manado, kami dari perwakilan badan lingkungan hidup (BLH) yang ada di Sulawesi dan Maluku menjalani pelatihan dasar-dasar pengawas lingkungan hidup. Setiap hari, kami harus berkutat dengan berbagai macam peraturan perundangan di bidang lingkungan, dan tugas yang harus dikerjakan setiap hari pula. Dari provinsi Sulawesi Tengah, saya bersama Pak Baso Nur Ali dan Astry dari BLH Kota palu ditugaskan dari kantor masing-masing untuk mengikuti pelatihan dasar-dasar pengawas lingkungan hidup yang digelar oleh PPE Sumapapua ini selama 3 minggu. Jadwal yang begitu padat membuat saya biasa terkantuk-kantuk saat siang habis makan, dan beberapa kali keluar mencuci muka. Sudah penyakit bawaan habis makan ngantuk.

Setelah menjalani minggu pertama, pada hari Minggu tanggal 13 November 2011, kami berkesempatan untuk melepaskan diri sejenak dari rutinitas menjalani pelatihan di kota Manado yang cantik ini. Bertujuh, ditemani ibu Fina dari BLH Provinsi Sulawesi Utara yang juga berperan sebagai guide lokal, kami menyewa sebuah mobil avanza yang di piloti sendiri oleh Pak Ahmad Saikhu dari BLH Prov.Sulawesi Selatan. Sambil menuju lokasi kami mampir dulu membeli bekal nasi kuning Saroja yang terkenal itu, bungkusnya unik dari daun palem muda mungkin sejenis lontar yang berwarna kuning pucat. Kami pun segera meluncur ke arah Tomohon yang berhawa sejuk. Sementara itu teman-teman yang lain sudah menuju ke Bunaken.

Kali ini kami mencoba mengunjungi tempat wisata yang bernuansa spiritual yang ada di Sulawesi Utara. Tujuan pertama kami adalah bukit doa, sebuah tempat yang biasa digunakan para penganut agama Katolik untuk berdoa di depan goa Maria. Di kesejukan udara pegunungan, tempat ini menghadikan suasana yang menyegarkan. Taman-taman tertata rapi, bersih dan indah dan dikelola dengan baik. Sebuah ampitheater yang indah melengkung berhiaskan rumput hijau menjadi sajian yang tidak biasa kita jumpai. Kami pun langsung berfoto ria di tempat ini.
Perjalanan kemudian dilanjutkan ke bukit kasih. Kami berhenti sejenak di kawangkoan untuk membeli kacang Kawangkoan yang terkenal itu dan 2 sisir pisang sebagai snack di perjalanan. Mendekati bukit Kasih, dari kejauhan sebuah salib raksasa yang berwarna putih nampak mencolok menjulang diantara hijaunya bukit. Sesaat setelah memarkir mobil, tiga orang anak-anak yang berwajah polos, langsung menunjukkan jalan untuk kami. Sampai di gerbang salah seorang anak langsung menawarkan bantuan “Sini pak saya fotokan di depan pintu gerbangnya” katanya. Kemudian anak yang satunya berkata dengan bangga, “Ini tangganya 2435 kalo sampai atas, kalau mau sampai tempat ibadah 5 agama sekitar 900 tangga jumlahnya”.

Tidak jauh dari gerbang masuk ada sebuah gardu pandang dan pos jaga. Dari pengeras suara seorang penjaga meminta kami untuk mengisi buku tamu walau jarak kami dengan penjaga itu hanya 3 meter saja. Dari gardu pandang ini terlihat sebuah tugu berwarna coklat dengan latar belakang asap putih mengepul dari kawah belerang. Beberapa penjual cinderamata segera menghampiri kami menawarkan berbagai asesoris dan juga topi. Setelah mengisi buku tamu kami segera mendaki anak tangga demi anak tangga di naungi mendung langit yang kian menebal .

Anak-anak tadi dan beberapa penjual cenderamata menemani kami mendaki tangga. Tidak lama mendaki kami sampai di gardu pandang lagi. Oh ya anak-anak tadi bernam Amel, rani dan Katrina. Seorang anak yang bernama Amel dengan ramah menawarkan bantuan untuk memotret kami. Pak yunus dan pak Ahmad yang membawa kamera poket segera menyerahkan kameranya pada mereka. “Yak bagus Pak fotonya..jadi keliatan tambah muda” katanya seusai memfoto, membuat kami tergelak-gelak tertawa. Mereka pun jadi juru foto kami agar muka kami terekspose semua. Mereka memiliki trik memotret yang unik, agar foto nampak spektakuler. Ada yang difoto nantinya kayak raksasa memegang tugu, atau foto agar tampak melayang di atas awan.
Kami memutuskan tidak lanjut sampai ke atas karena jaraknya cukup jauh, cuaca hujan dan licin dan yang utama nafas sudah ngos-ngosan. Setelah hujan reda, pendakian dilanjutkan ke tempat ibadah lima agama. Tempat ini seakan menjadi penanda bahwa toleransi beragama sangat tinggi disini, semua bisa berdampingan dengan damai . Setiap manusia mempunyai hak untuk memenuhi kebutuhan jiwa secara transendens akan Sang Pencipta.
Disinilah tempat pose melayang di atas awan. Setelah berpose ala superman, di tempat ibadah 5 agama yang berdekatan itu, kami pun yang rata-rata beragama islam segera menunaikan sholat ashar dan dhuhur yang di jama’ di masjid. Ada tempat wudhu di belakang masjid mengucur dari pancuran yang tanpa henti mengalirkan air yang dingin. Mukena untuk muslimah pun banyak tersedia tersampir di tali yang digantung di dinding. Setelah beribadah dan bersyukur kepada Tuhan atas segala nikmat-Nya, kami segera turun karena hujan rintik-rintik mulai menggutur. Dengan hati-hati kami menuruni tangga yang cukup curam dan licin. Dengan ramah anak-anak itu menawarkan rendam kaki air panas dan pijit refleksi di bawah. Setelah naik turun 900 anak tangga, betis memang menjadi tegang, dan tawaran rendam kaki dan pijit seakan tidak bisa dilewatkan begitu saja. Di bawah tampak sungai yang mengalir mengepul karena panasnya. Jejeran warung –warung beratapkan terpal berwarna biru menawarkan sajian jagung rebus. Jagung-jagung ini direbus di sungai yang mendidih, kamipun memesan jagung itu, dan memang matang dan tidak ada bau belerang sedikitpun seperti yang saya bayangkan. Padahal di sungai ini menyengat sekali bau belerangnya.

Banyak pengunjung yang mengabadikan moment kunjungan dengan berfotoria berlatar belakang asap belerang dan dinding gunung yang berwarna putih.   Dan kalau anda capek setelah mendaki, dengan uang Rp 30.000 anda bisa menikmati relaksasi rendam kaki dan pijat refleksi. Anak-anak tadi pun sibuk mencari ember dan mengisinya dengan air panas dari sungai. Setelah itu merekapun melanjutkan aksi dengan memijit tumit kaki dengan lincahnya. Setelah otot kaki menjadi rileks kamipun beranjak pulang ke manado lagi meninggalkan bukit kasih ini dan bersiap menerima materi pelatihan esok hari.

###

Korban perampokan pulsa

Akhirnya saya pun kena program sedot pulsa dari provider Indosat.  Pertama-tama saya tidak sadar kalau telah masuk dalam jebakan betmen ini. Sendernya dari 600, tidak ada kata REG untuk mendaftar di sms yang saya terima.  Cuma saya terjebak dengan kata-kata manis cek di *xxx*x# layaknya ngecek pulsa saja, jadi tidak ada terlintas fikiran curiga akan masuk dalam jebakan perampokan pulsa.  Setelah beberapa hari herannya pulsa saya kok berkurang sendiri padahal nomor indosat ini tidak pernah saya pakai, cuma sms iklan aja yang datang dari 600.  Setelah browsing di internet hmmm…rupanya hampir semua operator mengganti kalimat REG pada program berlangganan mereka dengan kode-kode yang langsung aktif sebagai member kayak kode di atas tadi kayak cek di *xxx*xx*x#.  Modus operandi sudah berubah rupanya. Akhirnya saya ketik STOP send ke 600.  Intinya jangan terpengaruh dengan sms-sms yang isinya syurga telinga, atau anda juga akan jadi korban perampokan gaya baru ini.

Situs Cagar Budaya Dato Karama

Situs Cagar Budaya makam Dato Karama adalah sebuah situs Budaya berupa pekuburan tempat di makamkannya seorang tokoh penyebar agama Islam yang pertama di Sulawesi Tengah pada abad17.    Makam ini terletak di Kampung Lere tidak jauh dari Taman Budaya Palu.  Di depan makam ada warung makanan unik ala makassar yang dagingnya serba kuda, ada coto kuda, konro kuda pokoknya serba kuda.    Nama Dato Karama sendiri merupakan gelar yang diberikan oleh khalayak yang artinya seorang dato yang sakti atau keramat.  Nama asli Dato Karama adalah Abdullah Raqie berasal dari Sumatera Barat.  Karena kesaktiannya maka Raja Kabonena I Pue Njidi serta rakyatnya memeluk Agama Islam. Isteri Dato Karama bernama Intje Djille sedangkan anaknya bernama Intje Dongko dan Intje Saribanong, Injte Dongko kawin dengan pemuda dari Sulawesi Selatan. Pada kompleks Makam Datokarama selain makam beliau juga terdapat makam isterinya dan keluarga serta pengikutnya yang terdiri dari 9 (sembilan) makam laki-laki, dan 11 (sebelas) makam wanita serta 2(dua) makam yang tidak jelas, karena nisannya juga tidak jelas.

Untuk menghormati Dato karama ini, seorang pengusaha membiayai pembangunan sebuah Masjid yang terletak di depan SPBU di pantai Kampung Lere bernama Argam Bab Al Rahman yang dibiayai oleh Muhammad Hasan Bajamal, pengusaha sukses yang memiliki sejumlah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di Kota Palu. Masjid berlantai satu dengan empat menara ini berjarak 30 meter dari bibir pantai.  Sesuai gambar maket, masjid ini seolah-olah mengapung di atas air laut dengan dikelilingi pemandangan Teluk Palu.

Hasan Bajamal mengatakan pembangunan masjid ini adalah untuk mengenang Dato Karama, salah satu penyebar agama Islam di Kota Palu pada abad ke-17. Penyebar Islam dari Tanah Minang, Sumatera, itu pertama kali menginjakkan kaki di Kampung Lere, yakni lokasi di sekitar pembangunan masjid Argam Bab Al Rahman sekarang ini. “Jangan sampai sejarah Dato Karama terkikis zaman,” katanya.  Nama Dato Karama sendiri sudah diabadikan menjadi nama Sekolah Tinggi Agama Islam di Palu.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.